Senin, 11 Februari 2019

GIMANA SIH ALUR WAKAF KOK BISA PAHALA NYA NGALIR


عُمَرُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ فَأَتَى اَلنَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأْمِرُهُ فِيهَا فَقَالَ يَا رَسُولَ اَللَّهِ إِنِّي أَصَبْتُ أَرْضًا بِخَيْبَرَ لَمْ أُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ أَنْفَسُ عِنْدِي مِنْه ُ قَالَ إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا وَتَصَدَّقْتَ بِهَا قَالَ فَتَصَدَّقَ بِهَا عُمَرُ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يُبَاعُ أَصْلُهَا وَلَا يُورَثُ وَلَا يُوهَبُ فَتَصَدَّقَ بِهَا فِي اَلْفُقَرَاءِ وَفِي اَلْقُرْبَى وَفِي اَلرِّقَابِ وَفِي سَبِيلِ اَللَّهِ وَابْنِ اَلسَّبِيلِ وَالضَّيْفِ لَا جُنَاحَ عَلَى مَنْ وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ وَيُطْعِمَ صَدِيقاً غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ مَالًا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Dari Ibnu ‘Umar Ra, ia berkata, “Umar telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar, kemudian ia datang kepada Nabi untuk meminta nasihat darinya tentang tanah itu. Maka Umar berkata, ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mendapatkan sebidang tanah di Khaibar yang tidak pernah aku mendapatkan tanah sebaik itu menurutku.’ Maka Nabi saw. Bersabda, ‘Jika engkau mau, waqafkanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya.’ Ibnu Umar berkata, ‘Maka Umar mewaqafkan tanah itu dengan syarat-syarat; tidak boleh diwariskan dan dihibahkan.’ Lalu Umar waqafkan tanah itu dan hasilnya untuk kepentingan orang yang fakir, kerabat dekat, hamba sahaya, sabilillâh, ibnu sabil dan tamu-tamu, tidak berdosa orang yang mengurusnya memakan darinya dengan cara yang baik dan memberi makan shahabat dengan syarat tidak menjualnya’.” HR. al-Bukhâri dan Muslim, dan hadîts ini lafadz atau redaksi Muslim.


KH.Aceng menyatakan bahwa pada hadîts tersebut di atas terdapat beberapa kandungan, di antaranya:
1.     Umar mendapatkan tanah yang baik di Khaibar, kemudian Umar meminta saran kepada Nabi saw. tentang tanah itu.
2.     Nabi saw. menyarankan untuk mewaqafkan tanah itu dengan catatan; tidak dijual pokoknya, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan tetapi disedekahkan hasilnya.
3.     Penyaluran hasil waqaf bisa untuk kebutuhan orang yang faqir, kerabat dekat, hamba sahaya, sabilillah, ibnu sabil dan para tamu.
4.     Pengelola waqaf boleh memakan hasil waqaf atau memberi makan shahabat dengan catatan tidak untuk memperkaya diri.